Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala Alihi wa Ashabihi Ajma’in. Amma ba’du
Segala puji bagi Allah Azza wa Jalla yang telah melimpahkan taufiq, hidayah, kesehatan dan kenikmatan iman yang karena-Nya kita dapat berbagi pelajaran dan mengambil hikmah dalam setiap jengkal dari perjalanan hidup di dunia yang fana ini. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasul-Nya yang mulia, Nabi Muhammad ﷺ dan keluarga serta para shahabatnya yang telah memberikan contoh dan tauladan, sehingga kita dapat berjalan dan melalui detik demi detik kehidupan sesuai tuntunan rasullullah shalallahu 'alaihi wassalam.
Rasullullah shalallahu 'alaihi wassalam telah menjadi contoh sebaik-baik manusia di muka bumi ini, yang menebarkan manfaat, menyebarkan ilmu dan yang paling terjaga hatinya dari kotoran-kotoran dan penyakit yang dapat menyebabkan hilangnya pahala suatu amalan.
Saudariku, setiap manusia di dunia ini hidup berdampingan dengan manusia yang lain. Dengan berbagai ujian dan godaan dunia yang fana ini, maka kita sebagai mukmin harus paham akan tujuan Allah menciptakan manusia di dunia, yaitu untuk beribadah hanya kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى
Allah Ta’ala berfirman
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).
Marilah kita bertakwa kepada Allah ﷻ dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya taqwa. Marilah kita segera menuju ampunan-Nya dan keridhaan-Nya. Marilah kita sambut seruan orang yang mengajak menuju negeri kemulian-Nya dan surga-Nya. Janganlah kita terperdaya kehidupan dunia, keindahan penghidupan dan kenikmatan-Nya. Sesungguhnya ajal itu terus mendekat sementara waktu-waktu dari umur kita telah banyak yang hilang.
Saudariku, ketahuilah bahwa seorang mukmin itu berada di antara dua rasa takut. Pertama, antara waktu yang telah berlalu, dia tidak mengetahui apa yang Allah ﷻ akan lakukan terhadapnya. Kedua, waktu yang tersisa, dia tidak mengetahui apa yang Allah telah takdirkan kepadanya.
Maka, sepantasnya seorang hamba menundukkan nafsunya untuk beramal bagi kebaikannya sendiri.
Hendaknya dia gunakan waktu sehatnya untuk beramal sebagai bekal di waktu sakitnya.
Hendaknya dia gunakan waktu hidupnya untuk beramal sebagai bekal setelah matinya.
Hendaknya dia gunakan waktu kayanya untuk beramal sebagai bekal di waktu miskinnya.
Nabi Muhammad ﷺ telah memberikan petunjuk, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara
(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
(5) Hidupmu sebelum datang matimu.”
(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim namun keduanya tidak mengeluarkannya. Dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Saudariku, mari kita senantiasa bersemangat untuk beramal shalih, sebelum datangnya penyesalan. Lihatlah mereka yang menyesal, Allah berfirman:
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ (10) وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (11)
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munafiqun: 10-11).
Saudariku, setiap muslim diperintahkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan, beramal shalih, dan semangat menebarkan manfaat bagi umat manusia.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya [al-Maidah/5:2]
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).
Saudariku, dengan beramal shalih dan memberikan manfaat kepada orang lain, maka kita akan mendapatkan banyak keutamaan:
1. Memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri.
Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman:
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ
“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7)
2. Allah akan membantu keperluan kita
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ الله فِي حَاجَتِهِ
“Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya.” (Muttafaq ‘alaih)
3. Allah mudahkan urusan kita di dunia dan di akhirat
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ, ةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Barang siapa yang memudah kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim).
4. Jika kita meninggal, hanya meninggalkan tiga amalan yang tidak terputus dan pahalanya terus mengalir
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
Saudariku, semua keutamaan tersebut tentu bisa kita dapatkan jika kita melakukannya dengan penuh keikhlasan mengharap pahala dari Allah subhanahu wata'ala dan meniatkan melakukan amalan karena Allah ta'ala, bukan karena manusia apalagi mengharapkan dunia. Karena, ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya amalan, dan hanya amalan yang diterima Allah lah yang akan memberikan manfaat kepada kita baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullah berkata, “Ikhlas dalam beramal karena Allah ta’ala merupakan rukun paling mendasar bagi setiap amal salih. Ia merupakan pondasi yang melandasi keabsahan dan diterimanya amal di sisi Allah ta’ala, sebagaimana halnya mutaba’ah (mengikuti tuntunan) dalam melakukan amal merupakan rukun kedua untuk semua amal salih yang diterima di sisi Allah.” (Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 49)
Diantara perkataan ulama salaf dalam menganjurkan keikhlasan adalah yang diriwayatkan dari adh-Dhahak bin Qais bahwa beliau berkata,"Wahai manusia, ikhlaskanlah amalan kalian untuk Allah ﷻ! , Sesungguhnya Allah ﷻ tidak menerima amalan kecuali yang ikhlas.
Abu Abdirrahman as-Sulami berkata, ''Saya pernah mendengar Manshur bin Abdillah berkata,"Telah berkata Muhammad bin Ali at-Tirmidzi,"Kesuksesan di sana (akhirat) itu bukan karena banyaknya amalan. Sesungguhnya kesuksesan di sana itu dengan mengikhlaskan amalan dan memperbaikinya.
Saudariku, semua dari kita bisa menjadi pribadi yang bermanfaat. Kita bisa beramal dengan apa yang kita miliki sesuai kesanggupan kita. Baik berupa materi, tenaga maupun pikiran, yang kita mampu istiqomah di dalamnya walaupun hanya sedikit. Banyak sekali cara yang dapat kita lakukan untuk menjadi pribadi yang bermanfaat. Sekecil apapun amalan yang bisa kita lakukan, sekecil apapun kesempatan yang datang kepada kita, maka ambillah kesempatan itu. Lakukanlah dengan sungguh-sungguh sesuai kadar kesanggupan dan kemampuan maksimal yang kita mampu. Dalam qawa'id fiqhiyah kaidah ke 51
مَنِ اجْتَهَدَ وَبَذَلَ مَا فِي وُسْعِهِ فَلاَ ضَمَانَ عَلَيْهِ وَكُتِبَ لَهُ تَمَامَ سَعْيِهِ
Barangsiapa bersungguh-sungguh mengerahkan kemampuannya, maka tidak wajib mengganti dan dianggap mengerjakan amalan secara sempurna
Kaidah ini menjelaskan bahwa seseorang yang telah bersungguh-sungguh mengerahkan upayanya untuk melaksanakan suatu amalan, dan dia melaksanakan amalan itu sesuai kadar kemampuannya, maka dia telah terlepas dari lingkup tuntutan pelaksanaan amalan tersebut. Sehingga tidak ada kewajiban mengganti atau mengulanginya lagi, dan tidak ada dosa atasnya ketika meninggalkan bagian amalan yang dia tidak mampu mengerjakannya, bahkan dia dianggap melaksanakan amalan tersebut secara sempurna.
Allah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَهَا
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS. Al-Baqarah:286)
Saudariku, jangan sampai amalan yang telah kita kerjakan tidak ada artinya di sisi Allah bahkan tertolak karena kita beramal tanpa keikhlasan, karena hati kita dipenuhi sifat riya', ujub dan berbangga diri dengan apa yang telah kita perbuat. Karena syetan sangat halus menggoda manusia dalam hal riya' dan ujub ini.
Seorang ulama salaf Yusuf bin al-Husain berkata, "Yang paling sulit di dunia ini adalah keikhlasan. Sering aku berusaha untuk menghilangkan riya' dari hatiku, namun seolah-olah ia muncul dengan warna lain."
Begitu beratnya menjaga keikhlasan, maka mari kita berusaha bersungguh- sungguh mengamalkannya, meluruskan niat dalam beramal karena Allah dan menjadi pribadi yang tulus ikhlas dalam memberikan manfaat bagi sesama. Karena niat merupakan timbangan penentu kesahihan suatu amal. Apabila niatnya baik, maka amal menjadi baik. Apabila niatnya jelek, amalnya pun menjadi jelek (Syarh Arba’in li an-Nawawi, sebagaimana tercantum dalam ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 26).
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]
Mutharif bin Abdullah rahimahullah mengatakan, ''Baiknya hati dengan baiknya amalan, sedangkan baiknya amalan dengan baiknya niat."(sebagaimana dinukil olrh Ibnu Rajab dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, hal 19.
Ibnu al-Mubarak rahimahullah mengatakan,''Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat. dan betapa banyak pula amal besar menjadi kecil gara-gara niat.'' (sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam hal.19).
Saudariku, segala amal yang dilakukan tidak ikhlas karena ingin mencari wajah Allah maka amal itu akan sia-sia, tidak ada hasilnya baik di dunia maupun di akhirat.
Pada suatu saat sampai berita kepada Abu Bakar tentang pujian orang-orang terhadap dirinya. Maka beliau pun berdoa kepada Allah,''Ya Allah, Engkau lah yang lebih mengetahui diriku daripada aku sendiri. Dan aku lebih mengetahui diriku daripada mereka. Oleh sebab itu ya Allah, jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka kira. Dan janganlah Kau siksa aku karena akibat ucapan mereka. Dan ampunilah aku dengan kasih sayang-Mu atas segala sesuatu yang tidak mereka ketahui." (Kitab Az Zuhd Nu'aim bin Hamad, dinukil dari Ma'alim fi Thariq Thalabil 'Ilmi, hal.119)
Namun, sekuat apapun kita menjaga hati, setan senantiasa menggoda manusia untuk merusak amal shalihnya. Disinilah ujian kita untuk berperang melawan nafsu yang dihembuskan setan agar amalan yang kita kerjakan tertolak dan sia-sia. walyadzubillah.
Ada beberapa kiat yang dapat kita lakukan agar kita tetap ikhlas dalam beramal:
1. Berdoa
Allah maha membolak balikkan hati. Maka, berdoalah selalu kepada Allah agar Allah memberikan keikhlasan dalam setiap amalan yang kita lakukan. Do’a yang sering dipanjatkan oleh Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu adalah
اللَّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِى كلَّهُ صَالحِاً وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصاً وَلاَ تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيْهِ شَيْئاً
Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku sebagai amal yang shalih, Ikhlas karena mengharap Wajah-Mu, dan janganlah jadikan di dalam amalku bagian untuk siapapun
2. Menyembunyikan amal
Bisyr ibnul Harits mengatakan, “Janganlah engkau beramal untuk diingat. Sembunyikanlah kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan.
Ulama salaf al-A'masy berkata, suatu ketika Hudzaifah menangis dalam shalatnya. Saat selesai shalat, ia menoleh, ternyata ada orang di belakangnya. Maka ia berkata,"Janganlah sekali-kali engkau ceritakan ini kepada siapapun"
3. Melihat amal orang shalih yang ada di atas kita
Lihatlah generasi salaf terdahulu yang amalannya lebih banyak dan lebih mulia. Perhatikan dan jadikanlah para nabi dan orang shalih terdahulu sebagai panutan kita. Allah ta’ala berfirman,
أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ (٩٠)
“Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran). Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh umat.” (Al An’am: 90).
4. Khawatir amal tidak diterima
Jangan merasa amalan yang kita kerjakan pasti diterima Allah subhanahu wa ta'ala. Para ulama salaf terdahulu, mereka menunaikan shalat, puasa dan sedekah, tetapi masih merasa khawatir dan takut amalnya tidak diterima. Tentu kita sepatutnya lebih khawatir dengan amal kita di jaman sekarang saat ini.
5. Tidak terpengaruh perkataan manusia atas amalan yang telah dikerjakan
Ibnul Jauzi mengatakan,
أن ترك النظر إلى الخلق و محو الجاه من قلوبهم بالعمل و إخلاص القصد و ستر الحال هو الذي رفع من رفع
“Meninggalkan perhatian makhluk dan tidak mencari-cari kedudukan di hati mereka dengan beramal shalih, mengikhlaskan niat, dan menyembunyikan amal merupakan faktor yang mampu meninggikan derajat orang yang mulia.”
6. Ingat, kita akan sendirian di alam kubur
Ibnul Qayyim mengatakan,
صدق التأهب للقاء الله من أنفع ما للعبد وأبلغه في حصول استقامته فإن من استعد للقاء الله انقطع قلبه عن الدنيا وما فيها ومطالبها
“Persiapan yang benar untuk bertemu dengan Allah merupakan salah satu faktor yang paling bermanfaat dan paling ampuh bgi hamba untuk merealisasikan keistiqamahan diri. Karena setiap orang yang mengadakan persiapan untuk bertemu dengan-Nya, hatinya akan terputus dari dunia dan segala isinya.”
Akhirnya, semoga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut bisa menjadi renungan bagi kita semua.
مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Hadits ini juga menunjukkan bahwa jika bertentangan antara dua hal yang sama-sama manfaat, maka pilihlah perkara yang memiliki nilai manfaat yang lebih. Seorang yang berakal pasti akan melakukan hal yang bermanfaat dan akan memilih melakukan yang lebih manfaat. Namun terkadang hati ini berubah, sampai-sampai kita bersandar pada diri sendiri dan lupa meminta pertolongan pada Allah ‘azza wa jalla. Inilah yang terjadi pada kebanyakan orang, mungkin juga kita. Kita terkadang merasa takjub dengan diri sendiri, seraya dalam benak hati ini mengatakan: Saya pasti bisa menyelesaikannya sendiri. Dalam kondisi ini, Rabb tempat kita bergantung dan tempat kita memohon segala macam hajat, posisi-Nya terpinggirkan.
Ketika kita sudah bersemangat dalam melakukan suatu amalan sholeh dan yang bermanfaat, terkadang kita terlena dengan kemampuan kita sendiri, merasa takjub dan lupa meminta tolong pada Rabb kita.
Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepada kita: Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah pada Allah. Janganlah kita melupakan meminta tolong pada-Nya walaupun itu dalam perkara yang sepele.
Misalnya dalam hadits:
لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ
“Hendaklah salah seorang di antara kalian meminta seluruh hajatnya pada Rabbnya, walaupun itu adalah meminta dalam hal tali sendal yang terputus.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya. Husain Salim Asad mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih berdasarkan syarat Muslim).
Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: Wa laa ta’jiz, yakni janganlah engkau lemah. Yang dimaksudkan di sini adalah hendaknya seseorang terus melakukan amalan tersebut hingga selesai, janganlah menunda-nundanya, dan janganlah biarkan pekerjaan terlalaikan begitu saja. Janganlah mengatakan bahwa waktu masih panjang. Selama engkau bertekad melakukan sesuatu, yakin bahwa yang dilakukan bermanfaat, lalu engkau meminta pertolongan pada Allah, maka janganlah menunda-nunda melakukannya.
Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah kepada kita semua. Aamiin
Disusun oleh Retna Nurhayati
Referensi:
https://almanhaj.or.id/22803-perintah-untuk-saling-menolong-dalam-mewujudkan-kebaikan-dan-ketakwaan-2.html
https://rumaysho.com/1663-terputusnya-amalan-kecuali-tiga-perkara.html
https://rumaysho.com/691-tetap-semangat-dalam-hal-yang-bermanfaat197.html
https://muslim.or.id/4168-bagaimana-saya-bisa-ikhlas-di-setiap-amal.html
https://muslim.or.id/863-ikhlas-dalam-beramal.html
https://muslimah.or.id/6435-pribadi-yang-bermanfaat.html
https://muslimah.or.id/7109-2-tujuan-penciptaan-manusia.html
https://rumaysho.com/5022-manfaatkanlah-5-perkara-sebelum-menyesal.html
https://almanhaj.or.id/4364-kaidah-ke51-barangsiapa-bersungguhsungguh-dianggap-mengerjakan-amalan-secara-sempurna.html
Majalah As-Sunnah, No.08/THN.XVI