Dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 3 Allah Ta’ala berfirman “Kami menceritakan kepadamu sebaik-baik kisah”. Bahwa apa yang Allah kisahkan dalam Al-Qur’an adalah sebaik-baik kisah. Salah satunya tentang perang yang terjadi pada tahun ke-3 H di dekat gunung Uhud sekitar 5 kilometer dari kota Madinah.
Terjadinya Perang Uhud karena kaum kafir Quraisy ingin balas dendam kepada kaum muslimin setelah mengalami kekalahan pada perang Badar yang menyebabkan banyak para pembesar mereka terbunuh. Mereka menyiapkan segala kekuatan untuk memerangi kaum muslimin, hingga Abu Sufyan sebagai provokator utama bersama rekan-rekannya menyumbangkan harta mereka sebagai bekal persiapan perang menghadapi kaum muslimin. Mereka mengerahkan 3000 pasukan bersama 300 unta dan 200 kuda.
Kaum muslimin siaga menghadapi serangan kafir Quraisy. Mereka menyandang senjata meskipun dalam keadaan shalat, sengaja tidur di masjid dan berdiri di depan rumah Nabi ﷺ untuk menjaga beliau. Kelompok yang lain menjaga pintu masuk kota untuk menghalau musuh agar tidak menyusup masuk kota Madinah. Namun, di antara 1000 pasukan kaum muslimin, Abdullah bin Salul bersama 300 pengikutnya membelot meninggalkan perang dan kembali ke Madinah. Dengan 700 pasukan yang masih bertahan, Rasulullah ﷺ menyusun pasukan dan membentuk barisan perang. Beliau ﷺ memilih 50 prajurit untuk menjadi tim pemanah yang diketuai oleh Abdullah bin Jubair. Namun, pada akhirnya barisan pemanahpun melanggar intruksi Rasulullah ﷺ yang menyebabkan kekacauan di barisan kaum muslimin.
Setelah mendengar kabar bahwa pasukan kafir Quraisy telah mendekati kota Madinah, Rasulullah ﷺ melakukan musyawarah dengan para sahabatnya untuk menentukan sikap. Sebelum pertemuan tersebut, malam harinya Rasulullah ﷺ bermimpi dan menceritakan kepada para sahabatnya. Beliau ﷺ bersabda, “Sungguh demi Allah, aku melihat kebaikan. Aku melihat sapi yang disembelih, aku melihat pada ujung pedangku ada keretakan, dan seolah aku memasukkan kedua tanganku ke dalam tameng yang kokoh”. Nabi ﷺ mengartikan sapi dalam mimpinya sebagai sahabat-sahabatnya yang akan gugur syahid, dan keretakan pada pedangnya adalah sebagai keluarganya yang gugur, sedangkan tameng yang dimaksud adalah kota Madinah.
Untuk itu, Nabi ﷺ memilih untuk bertahan di Madinah. Kaum Muhajirin, kaum Anshar, dan Abdullah bin Ubay bin Salul selaku pemuka kaum Khazraj menyetujuinya. Akan tetapi kebanyakan dari sahabat terutama dari kalangan pemuda berpendapat untuk maju berperang. Maka Rasulullah ﷺ pun mengambil dan mengenakan atribut perangnya. Setelah melihat Rasulullah ﷺ lengkap dengan baju perangnya, para pemuda justru menyesal karena merasa telah memaksa Rasulullah ﷺ untuk keluar berperang. Para pemuda menanyampaikan kepada Nabi untuk tetap tinggal di Madinah. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda “Tidak patut bagi seorang Nabi bila telah menyandang baju perangnya untuk menanggalkan sebelum memutuskan perkara antara dirinya dengan musuh”. Juru bicara Rasulullah ﷺ mengumumkan keberangkatan untuk berperang. Rasulullah ﷺ keluar bersama 1.000 sahabatnya dan membagi menjadi tiga kelompok pasukan, yaitu pasukan kaum Muhajirin, pasukan kelompok Al-Aus dari kaum Anshar, dan kelompok Khazraj dari Anshar.
Sesampainnya di sebuah tempat bernama Asy-Syaikhan, Rasulullah ﷺ memeriksa pasukannya dan mengeluarkan mereka yang dinilai masih kecil dan tidak layak ikut berperang. Di antara mereka yang tidak diikutsertakan perang karena usia mereka yang masih belia adalah Abdullah bin Umar, Usamah bin Zaid, Zaid bin Tsabit, dan beberapa yang lainnya. Rasulullah ﷺ mengizinkan Rafi bin Khadij untuk tetap bergabung dalam pasukan perang karena beliau ﷺ menganggap Rafi mahir menggunakan panah meskipun usianya masih kecil. Hal itu membuat Samurah bin Jundub keberatan. Samurah menganggap bahwa dirinya lebih kuat dari Rafi bin Jundub. Hingga akhirnya Rasulullah ﷺ menyuruh keduanya bertarung di hadapan beliau ﷺ. Samurah mampu mengalahkan Rafi dalam pertarungan, sehingga Rasulullah ﷺ mengizinkan Samurah masuk dalam barisan pasukan perang kaum muslimin.
Tibalah pasukan kaum muslimin di suatu daerah bernama Asy-Syauth yang terletak di antara Madinah dan Uhud. Di sana, Abdullah bin Ubay bin Salul menunjukkan pembangkangan dan pembelotan. Ia keluar bersama 300 orang pengikutnya dari pasukan kaum muslimin dan melakukan provokasi dengan memasukkan pemikiran bahwa ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ artinya ingin bunuh diri. Dia beralasan bahwa Rasulullah ﷺ tidak menghiraukan pendapatnya dan lebih memilih mengikuti para pemuda yang ingin maju berperang. Padahal sejatinya Abdullah bin Ubay bin Sahlul dan pengikutnya adalah kelompok kaum munafik yang hendak memecah belah barisan kaum muslimin di saat barisan kelompok kafir semakin mendekat. Bani Salamah dan Bani Haritsah hampir terpengaruh provokasi tersebut dengan memutuskan pulang dan tidak ikut perang. Akan tetapi Allah Ta’ala menjaga hati mereka, sehingga tetap bertahan. Allah berfirman “Ketika dua golongan dari pihak kamu ingin mundur karena takut, padahal Allah adalah penolong mereka. Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal” (Qs. Ali Imran:122). Abdullah bin Amr berusaha menasihati Abdullah bin Salul untuk kembali pada barisan, namun tidak membuahkan hasil.
Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanan setelah kepergian kaum munafik, hingga sampai di Lembah Uhud. Rasulullah ﷺ dan pasukannya menjadikan punggung mereka menghadap ke arah gunung Uhud. Lalu, beliau ﷺ menyusun pasukan dan membentuk barisan. Nabi ﷺ menunjuk 50 prajurit sebagai tim pemanah yang bertugas berjaga di atas gunung untuk menghalau serangan musuh dan melindungi kaum muslimin. Rasulullah ﷺ berpesan pada pasukannya, “Jangan sampai seorang dari kalian memulai perang sampai datang komando dariku!”. Al-Barra bin Azin meriwayatkan pesan Nabi ﷺ kepada para pemanah “Jangan beranjak dari tempat kalian, jika kalian melihat kami menang jangan bergerak, dan jika kalian melihat mereka menang maka lindungi kami dengan panah kalian”. Nabi ﷺ memberi peringatan kepada para pemanah untuk tidak meninggalkan posisi dalam keadaan apapun.
Setelah menyusun pasukan, Rasulullah ﷺ memotivasi pasukannya untuk berperang dan gigih dalam menghadapi musuh. Rasulullah ﷺ menyerahkan pedangnya kepada Abu Dujanah, yaitu seorang yang sangat pemberani dan memiliki kebiasaan membungsungkan dada ketika berjalan di depan musuh. Hingga Rasulullah ﷺ mengomentari kebiasaan Abu Dujanah, “Sungguh berjalan seperti itu membuat Allah murka, kecuali di saat seperti ini (medan tempur)”.
Terjadilah pertempuran antara kaum kafir dengan kaum muslimin. Perang diawali dengan duel antara Thalhah bin Abi Thalhah al-Abdari sebagai panji pasukan kaum kafir dengan Zubair bin Awwam. Zubair langsung menyerang musuh saat masih berada di atas untanya dan menebas batang leher musuh dengan pedangnya. Allah turunkan pertolongan yaitu malaikat yang ikut berperang dan Allah berikan kemenangan pada kaum muslimin. Kaum Muslimin berhasil menghalau musuh dan menyebabkan kaum musyirikin lari dari perang.
Di saat kaum kafir lari meninggalkan perang, pasukan pemanah justru meninggalkan posisinya, padahal belum ada komando untuk melakukan pergerakan. Mereka meninggalkan posisinya karena menginginkan ghanimah. Mereka telah menyelisihi perintah Rasulullah ﷺ. Barisan kaum muslimin menjadi tercerai berai. Para prajurit kesulitan membedakan antara kawan dan lawan. Khalid bin Walid panglima musyrik pada saat itu langsung menyerang Abdullah bin Jubair dan pasukan pemanah, sehingga mereka terbunuh. Beberapa sahabat gugur dalam perang, di antaranya Hamzah bin Abdul Muththalib dan Mush’ab bin Umair. Kaum muslimin terkepung dari dua penjuru, sehingga kaum musyrikin bangkit dari kekalahan. Allah membalikkan keadaan.
Kaum Muslimin kini berada di pihak yang kalah, hingga tinggallah Rasulullah ﷺ bersama 9 sahabatnya yang tetap teguh membela Rasulullah ﷺ, namun pada akhirnya beberapa dari mereka kehilangannya nyawanya dan beberapa yang lain terluka. Mereka mengorbankan dirinya untuk melindungi Rasulullah ﷺ. Di antara sahabat yang terluka di peperangan adalah Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Dujannah, dan Mush’ab bin Umair. Adapun pasukan kaum muslimin yang gugur pada perang Uhud berjumlah 70 orang yang terdiri dari 6 orang dari kaum Anshar dan 64 orang dari kaum Muhajirin. Nabi ﷺ memerintahkan agar jasad mereka dikubur bersama darah mereka tanpa dishalati dan dimandikan terlebih dahulu.
Dari kisah perang Uhud banyak hikmah yang dapat diambil sebagai pelajaran, di antaranya:
1. Rasulullahﷺ berperang menggunakan baju berlapis menunjukkan pentingnya bertawakal dan berusaha maksimal.
2. Banyak anak kecil yang gigih ikut berperang adalah hasil pendidikan islam pada diri mereka. Sehingga, penting bagi para orang tua untuk memberikan pendidikan agama kepada anak sejak usia dini.
3. Dengan pembangkangan pasukan pemanah yang menyebabkaan kekalahan menunjukkan pentingnya taat kepada pemimpin.
4. Di antara pasukan perang memburu ghanimah sehingga memicu kekacauan mengingatkan untuk berhati-hati dari ambisi dunia.
5. Pentingnya keteguhan hati kaum Muslimin dalam keadaan apapun. Kaum kafir sempat menyebarkan isu bahwa Nabi ﷺ terbunuh, namun tidak menyurutkan semangat kaum muslimin untuk melawan musuh.
Kesimpulan
Dari kisah Perang Uhud dapat diambil kesimpulan bahwa Allah Maha Pemberi Pertolongan dan Peringatan. Bagi umat yang bersyukur, akan meningkatkan keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah Ta’ala. Ketetapan Allah adalah yang terbaik bagi hambanya. Seharusnya umat muslim menerima dan menjalani apa yang telah Allah takdirkan. Bahwa ajal telah Allah tentukan, sehingga apapun usaha yang manusia lakukan tidak akan menambah atau mengurangi usia mereka.
Ditulis oleh Retna Nurhayati, S.Si
Referensi
Abu Dzar, Mukhlis. 2008. Ibroh dari Perang Uhud. Buletin Al Furqon Tahun ke-3 Volume 1 No.4
Bin Abdul Karim, Zaid. 2009. Fikih Sirah. Jakarta Timur: Daruss Sunnah Press.
Iqbal. 2014. Perang Uhud (Suatu Analisis Historis Sebab-Sebab Kekalahan Umat Islam). Jurnal Rihlah Vol.1 2/2014.
Riyadi, Dedi Slamet. 2018. Perang Uhud : Kisah Pertempuran Sarat Pelajaran Hidup Yang Tak Terlupakan. Jakarta: Qalam.
Zaidan, Abdul Karim. 2011. Hikmah Kisah-Kisah Dalam Al-Qur’an. Jakarta Timur: Darus Sunnah Press.